Tampilkan postingan dengan label PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan

IGI Targetkan Membagi Sejuta Buku ke Sekolah


JAKARTA - Ikatan Guru Indonesia (IGI) menargetkan dapat membagi buku-buku pengayaan dan pelajaran ke berbagai sekolah di Indonesia.


Buku-buku yang bakal disumbangkan secara gratis ke sekolah-sekolah yang membutuhkan tersebut, antara lain diperoleh dari penerbit buku.

Program membagi buku ke sekolah-sekolah merupakan bagian dari Gerakan Indonesia Membaca yang digagas IGI. Dukungan perdana untuk program ini, datang dari penerbit Sinergi Pustaka Indonesia dan Smart Grafika.

Sekretaris Jenderal IGI, Mohammad Ihsan, di Jakarta, Senin (9/4/2012), mengatakan, Sinergi dan Smart akan mendedikasikan ratusan ribu buku pengayaan pembelajaran dan ensiklopedia untuk anak-anak Indonesia.

"Kami targetkan bisa membagikan satu juta buku secara nasional," kata Ihsan.

Pada tahap awal, Gerakan Indonesia Membaca dilaksanakan di Jawa Timur dengan tagline: Jatim Membaca. Sekitar 100.000 buku pengayaan pembelajaran jenjang SD dan SMP/madrasah sudah ada di gudang Surabaya.

"Buku yang dibagikan dalam kondisi buku baru, bukan buku bekas. Targetnya adalah sekolah-sekolah yang belum memiliki perpustakaan di kelasnya. Cabang IGI di seluruh Jawa Timur akan memilih sekolah dan mendistribusikannya," jelas Ihsan. Ketua Departemen Peningkatan Mutu Pendidikan IGI Agung Wibowo menambahkan Gerakan Indonesia Membaca ini untuk membudayakan membaca di sekolah.

"Kami ingin mendekatkan buku kepada siswa. Bukan siswa mendekati buku, sehingga buku dengan mudah dijangkau siswa dan dibaca secara rutin sebelum memulai pelajaran," tutur Agung.

Agung berharap, setiap sekolah bisa membudayakan membaca ini. Caranya sangat sederhana, misalnya menetapkan jam membaca buku apa saja di sekolah, di awal sebelum jam pelajaran dimulai, sebelum istirahat, atau sebelum pulang sekolah. IGI akan mengajak sejumlah pihak, baik perorangan maupun perusahaan, untuk bergandengan tangan menggerakkan program ini.

"Dengan membaca, bangsa ini akan semakin besar. Budaya membaca menjadi pondasi peradaban bangsa lebih baik," kata Agung.

Sementara itu Presiden Direktur PT Sinergi Pustaka Indonesia, Hanggoro Santoso, merasa bangga dengan program ini. "Kami berharap sekolah dan anak-anak bisa memanfaatkan buku-buku ini dengan baik. Kami berikan buku-buku baru," ujar Hanggoro.

Sumber : KOMPAS

2013, SNMPTN Gratis!


SNMPTN Gratis

Berita gembira buat Sobat Praktis yang mempunyai impian kuliah di Perguruan Tinggi Negeri karena Pada tahun 2013, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berencana menggratiskan biaya seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Djoko Santoso mengatakan, saat ini Kemdikbud tengah menghitung dana yang diperlukan untuk menerapkan SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) gratis.

Tahun 2011, pemerintah mengalokasikan Rp 30 miliar untuk menyelenggarakan SNMPTN. Besaran dana itu mampu menutupi biaya operasional SNMPTN jalur undangan dan ujian tulis sekitar 35 persen.

Rencana ini, jelas Djoko, sejalan dengan akan dihapuskannya SNMPTN jalur ujian tertulis. Menurutnya, dengan hanya membuka jalur undangan dalam penerimaan mahasiswa baru di PTN, beban penyelenggaraan SNMPTN lebih ringan karena tidak perlu lagi mencetak naskah untuk ujian tulis.

"Semua menjadi lebih hemat karena tidak ada biaya cetak. SNMPTN akan gratis karena pemerintah yang membayarnya," kata Djoko, Selasa (13/3/2012), di Gedung Kemdikbud, Jakarta.

Selama ini, peserta SNMPTN memang dikenai biaya pendaftaran yang nilainya berbeda setiap tahunnya. Pada 2012, setiap peserta jalur undangan dikenai biaya pendaftaran sebesar Rp 175.000. Adapun untuk jalur ujian tulis setiap peserta dikenai biaya Rp 150.000 untuk kelompok IPS dan Rp 175.000 untuk kelompok IPC (IPA dan IPS).
Di luar itu, terdapat juga ujian keterampilan sebesar Rp 150.000 untuk setiap peserta yang dibayarkan saat peserta mengikuti ujian keterampilan di PTN penyelenggara. (KOMPAS)

Kemendikbud Usahakan UN 2012 Lebih Jujur


UN 2012 Lebih Jujur (Ilustrasi)

Sobat Praktis,
REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Wiendu Nuryanti mengatakan, pihaknya sudah melakukan banyak perbaikan untuk menciptakan pelaksanaan UN yang jujur dan berprestasi pada 2012 ini.
Pasalnya hal tersebut terkait dengan pendidikan karakter. "Sudah banyak upaya dan perbaikan yang dilakukan agar pelaksanaan UN lebih jujur dan lebih baik," terangnya saat deklarasi 'UN Jujur' dan berprestasi di Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Provinsi DIY, Sabtu (17/3).
Dirjen Dikmen Hamid Muhammad mengatakan tahun ini pihaknya akan mengembangkan pendidikan anti-korupsi di semua sekolah di Indonesia. Dan deklarasi 'UN Jujur' sendiri menurutnya merupakan awal dari pembelajaran anti-korupsi di Indonesia.
Sedangkan Kapuspendik, Hari Setiabudi mengatakan, usaha-usaha untuk melaksanakan UN secara jujur sudah dilakukan Kemendikbud. Usaha-usaha tersebut antara lain dengan hanya adanya empat percetakan soal UN. Ini dilakukan agar pengawasab percetakan lebih gampang dan intensif.
"Sekarang lebih sulit untuk ada kebocoran. Percetakan kita kontrol dengan baik, pengawasan lebih ketat. Ada petugas dari pusat dan dari Perguruan Tinggi," tuturnya.
Selain itu, kata dia, pendistribusian soal juga dilakukan melalui tiga kali penyegelan. Yaitu segel di kardus, segel plastik dan terakhir di amplop. "Naskah soal hanya bisa dibuka di sekolah disaksikan para pengawas. Kalau segelnya rusak pelaksanaan UN tidak boleh dilaksanakan. Harus ada susulan. Kalau itu robek berarti bocor. Itu sistem yang kita laksanakan agar UN jujur dan kredibel," bebernya.
Deklarasi 'UN Jujur' sendiri di DIY diikuti seluruh elemen pendidikan dari Sekolah Dasar (SD) hingga sekolah Menengah atas (SMA) di Provinsi DIY. Sekitar 100 siswa dan guru mewakili seluruh sekolah di DIY membacakan sumpah bersama dalam deklarasi yang dipimpin Kepala Dikpora DIY Baskara Aji.
Deklarasi 'UN jujur' dan berprestasi tersebut disaksikan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Wiendu Nuryanti, Dirjen Pendidikan Menengah Kemendikbud, Hamid Muhammad dan Kepala Puspendik, Hari Setiadi. Deklarasi juga diikuti dinas pendidikan kabupaten/kota di DIY.
Deklarasi tersebut berisikan tiga janji yaitu siap membangun budaya pembelajaran berdasarkan ajaran agama, dan nilai utama karakter bangsa. Kedua siap mensukseskan UN dengan jujur dan berprestasi serta ketiga, siap melaksanakan dan menerima pendidikan anti-korupsi.
Menurut Baskara Aji, DIY merupakan satu dari sembilan provinsi lain di Indonesia yang mendeklarasikan UN jujur dan berprestasi. "Deklarasi ini merupakan bentuk komitmen bersama untuk menggelar UN dengan jujur dan sesuai prosedur," terangnya.
Kesembilan provinsi yang menggelar deklarasi ini adalah Sumatera Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, NTT, Bali, Papua, Kalimantan Timur dan DIY. Deklarasi ini kata dia, merupakan program dari Kemendikbud tahun ini.
"Ini merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mensosialisasikan kepada masyarakat bahwa UN harus diselenggarakan jujur dan sesuai Prosedur Operasional Standar (POS)," tambahnya. Hal tersebut kata dia diharapkan dapat memotivasi siapa saja dan menanamkan semangat kejujuran pada diri masing-masing.
Jadwal UN sendiri kata diam akan dilaksanakan pada 16-19 April untuk SMA/SMK, 23-26 April untuk SMP, dan 7-9 Mei untuk SD. Sementara peserta UN di DIY berdasarkan data terdiri atas SD (48.218), MI (2.085), SMP (41.425), MTs (6.891), SMA IPA (7.862), SMA IPS (7.673) SMA Bahasa (133), MA IPA (892), MA IPS (1.736), MA Bahasa (74), MA agama (490), SMK (24.026).

Mudahnya, Jadi Guru Kreatif


Sobat Praktis, 
Ada sebagian guru percaya bahwa menjadi sosok yang kreatif itu sulit. Apalagi kalau ditambahi alasan gaji pas-pasan, mengajar di daerah pelosok, media pembelajaran sangat terbatas, maka semakin yakinlah bahwa kreativitas itu memang sulit dilakukan. Mungkin, hanya guru-guru istimewa saja yang bisa kreatif. Lantas, apa benar jadi guru kreatif itu sulit?

Sebut saja namanya Siti Waliyati, anak yang terlahir dan mengabdikan dirinya di pelosok desa. Sekarang dia mengajar di SDN 8 Langkahan (Aceh Utara). Saya kaget bukan main, SDN 8 Langkahan terletak jauh sekali dari pusat kota. Perlu waktu sekitar 1,5 – 2 jam dari kota Lhokseumawe agar bisa sampai di SDN 8 Langkahan. Jalannya cukup berliku dan berbatu, berdebu di musim kemarau, dan berlumpur di kala hujan. Mobil tumpangan saya pernah terjebak lumpur, rombongan babi hutan sempat menghadang, bahkan saya hampir nyasar ke hutan karena salah jalan. Namun, bagi Siti, hal semacam ini sudah menjadi bagian dari kesehariannya.

Gaji Siti sangat kecil kalau tidak mau kita sebut alakadarnya. Dia tak pernah risau dengan statusnya sebagai guru honorer. Dia tak pernah berpikir bisa jadi guru hebat nan kreatif karena segala akses pengembangan diri sungguh sangat terbatas. Keikutsertaan menghadiri training guru bisa dihitung dengan jari, buku referensi hampir jarang ditemukan. Supervisi dari kepala sekolah tidak pernah rutin dijalani. Tapi, di sinilah kehebatan Siti sedang diuji. Mungkinkah dia bisa jadi guru hebat dengan segala keterbatasan yang ada?

Jawabannya ternyata ditemukan juga. Lomba Inovasi Media Pembelajaran Se-Kecamatan Langkahan menjadi saksi bisu atas perjuangan Siti menjadi guru hebat nan kreatif. Lomba itu memberi tantangan khusus kepada peserta untuk membuat inovasi media pembelajaran yang kreatif, orisinil, dan bisa digunakan dalam kegiatan pembelajaran.

Ada 17 peserta yang lolos ke babak final. Saya ingat betul, Siti menjadi peserta yang mendapat giliran tampil kedua untuk menyajikan hasil karyanya. Bungkus rokok, potongan kayu-kayu kecil, potongan karet sendal jepit berbentuk lingkaran, sedotan, dan sebuah balon, berhasil disulap menjadi mobil-mobilan. Saya dibuat penasaran jadinya. Apa yang hendak ditunjukkan Siti kepada dewan juri?

Dengan gaya khasnya, dia menjelaskan apa dan mengapa tujuan media itu dibuat. Semua dewan juri menganggukkan kepala tanda memahami apa yang disampaikan Siti. “Dengan alat ini, saya ingin membantu siswa memahami konsep gaya,” urai Siti meyakinkan. Situasi menjadi sedikit tegang ketika Siti harus mendemonstrasikan alat itu. Sesaat Siti menghela nafas, lalu meniup balon dengan sedotan, dan diletakkannya balon itu di bagian rangka mobil, lalu apa yang terjadi?

Sontak suara tepuk tangan riuh bergema di semua sudut ruangan, mobil itu berhasil meluncur dengan bantuan udara yang keluar dari balon. Fantastis. Beberapa dewan juri sempat pula meminta Siti melakukan hal itu berulang-ulang. Wualah, orang tua aja senang bukan main belajar dengan alat ini, apalagi anak-anak. Pikiran itu terlintas di benak saya.

Siti benar-benar berhasil menyihir dewan juri dengan kreativitasnya yang tiada tara. Apalagi setelah melihat penampilan peserta lainnya, mereka hampir tidak mampu menunjukkan aspek orisinalitas produk inovasi dan kemudahan bahan yang akan dibuat media pembelajaran tersebut. Yang ada, mereka hanya membawa contoh media pembelajaran yang sudah jadi dan bisa didapatkan di pasaran, seperti  globe, gambar-gambar hewan dan tumbuhan, dan media sejenis lainnya.

Untuk dua hal ini, orisinalitas gagasan dan kreativitas meracik bahan baku pembuatan media, Siti berhasil mengungguli peserta lainnya yang relatif sudah memiliki pengalaman mengajar lebih lama dari Siti. Belum lagi kalau mau dibandingkan dari aspek besar gaji yang diterima, frekuensi keikutsertaan mengikuti training guru, dan keterasingan dari akses pengembangan diri lainnya, Siti kalah telak dari kontestan lainnya yang sebagian besar sudah menjadi guru PNS.

Ah, tapi apa hubungannya antara kreativitas dan besarnya gaji? Apa memang betul senioritas dalam hal pengalaman mengajar berbanding lurus dengan kreativitas? Status guru PNS atau honorer, berpengaruhkah pada sikap kreatif seorang guru? Ah, Bu Siti mungkin tahu jawabannya.

“Ini baru awal, saya akan berjuang lebih keras lagi untuk menjadi guru yang baik,” Siti sempat berujar di sela-sela acara pengumuman pemenang lomba. Dan tekad itu dibuktikannya pula. Secara otodidak, Siti terus mempelajari banyak hal untuk meningkatkan kualitas mengajarnya. Sampai akhirnya, dia terpilih mewakili SDN 8 Langkahan untuk menjadi pembicara di Event Hari Guru Nasional 2010 silam di Jakarta.

Apa yang dia bicarakan tidak jauh-jauh dari apa yang sudah dilakoninya selama ini. PAIKEMI (Pembelajaran Aktif Inovatif Kreatif Efektif Menyenangkan Islami), istilah populer yang kerap masih sulit dilakukan sebagian besar guru yang belum sadar akan manfaat dari strategi mengajar ini. Guru yang usianya terhitung masih sangat muda ini pun sangat konsisten mempraktikkan PAIKEMI di kelasnya.

Kreatif, semua orang bisa miliki sifat ini. Kreativitas, menuntut proses belajar tiada henti dan tidak pernah merasa berpuas diri dalam hal bekerja dan berkarya. Siti Waliyati, potret menarik perjuangan guru dalam berkreativitas. Tak ada yang sulit jika kita terus mau belajar dan memperbaiki diri. Berangus rasa berpuas diri karena ini ancaman nyata menjadi guru kreatif.

Gaji yang minim, sulitnya akses pengembangan diri, jarangnya kesempatan mengikuti training guru, statusnya yang masih guru honorer, bukan alasan bagi Siti untuk tidak bisa jadi guru kreatif. Lantas, apa yang bisa membuat Siti melawan segala keterbatasan yang ada?

“Saya akan terus berjuang untuk mendidik anak-anak Langkahan, kasihan kalau mereka tidak ada guru. Mereka tak akan pernah punya masa depan,” Siti menegaskan komitmennya berikhtiar tuk jadi guru yang baik. Ternyata sederhana saja, komitmen diri, itu kunci menjadi guru kreatif. Siti Waliyati, salah satu contoh terbaik sosok guru kreatif. Republika

Seni Bertanya Efektif Dikelas


Sobat Praktis,
Albert Einstein pernah berujar, “Hal terpenting adalah tidak pernah berhenti berpikir”. Sontak saya jadi teringat satu kata, yaitu mengajar. Apa hubungan pernyataan Einstein dan mengajar?

Anatole France (1859) seolah hendak menjawab pertanyaan saya, “The whole art of teaching is only the art of awakening the natural curiosity of young minds for the purpose of satisfying it afterwards”. Mengajar itu seni untuk merangsang keingintahuan murid. Rasa ingin tahu itulah sesungguhnya yang akan membuat murid selalu ditantang untuk berpikir. Semua harus penuh tanda tanya, karena dengan itulah kita akan selalu berpikir.

Mengapa kita harus berpikir? Ehm, pasti saat ini Anda sedang berpikir. Jika tidak, maka Anda kurang punya rasa ingin tahu untuk mencari jawaban atas pertanyaan itu. Tegasnya, Anda enggan berpikir.

Mengajar yang baik berarti membuat pertanyaan yang baik pula. Peranan ‘pertanyaan’ merupakan bagian penting dalam menyusun sebuah pengalaman belajar bagi murid. Socrates meyakini bahwa semua ilmu pengetahuan akan diketahui atau tidak diketahui oleh murid, hanya jika guru dapat mendemonstrasikan keterampilan bertanya yang baik dalam praktik pembelajaran di kelas. Seberapa penting keterampilan bertanya yang baik harus dikuasai guru?

Menurut Kerry (1982), dalam waktu sepekan, guru kerap memberikan 1000 jenis pertanyaan dengan memiliki beragam tujuan, di antaranya untuk mendorong murid berpartisipasi aktif di kelas, untuk memutuskan apakah murid mengetahui atau tidak mengetahui sesuatu, untuk melibatkan murid dalam aktivitas diskusi, untuk menarik perhatian murid, untuk mengevaluasi tingkat pemahaman murid, untuk menyediakan kesempatan mengulang materi pelajaran, dan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis – kreatif murid.

Aneh rasanya jika ada guru lebih senang meminta murid untuk duduk manis di bangku kelas. Duduk manis tak bisa menunjukkan ekspresi & potensi murid yang super unik. Lebih aneh lagi, masih ada guru yang menganggap tabu jika ada murid yang berani bertanya. Masih ingat bunyi salah satu iklan, “Tak ada noda ya tak belajar?”

Tak ada pertanyaan, berarti tak belajar pula. Semua orang punya otak, tapi hanya sedikit orang yang menggunakan otaknya untuk berpikir. Optimalisasi otak lewat proses berpikir inilah yang mestinya menjadi menu utama dalam setiap kegiatan pembelajaran.

Coba bayangkan sejenak, ketika kita hendak menutup pengajaran di kelas, tanyalah murid-murid Anda, “Apakah kalian sudah paham materi yang sudah disajikan?” Suasana kelas menjadi hening, tak ada satu pun murid yang unjuk tangan. Saya coba bertanya lagi, “Adakah yang masih bingung dengan materi yang telah disajikan?” Semua murid masih terdiam membisu.

Sebagian besar murid menghindari kontak mata dengan saya. Ini kisah nyata yang pernah saya alami. Suasana kelas yang sudah telanjur terpenjara. Terpenjara oleh guru yang menutup semua pintu bagi muridnya untuk bertanya, berdiskusi, berdebat, & berpikir. Tak ada keleluasaan untuk melakukan itu semua. Mustahil murid-murid di kelas seperti ini punya kebebasan untuk berpikir & berjuang keras mencari jawaban atas semua keingintahuan mereka. Yang mengkhawatirkan, mereka akan jadi generasi pemalas. Malas berpikir & berkreasi. Tragis.

Kelas mestinya menjadi ruang ekspresi murid yang dipenuhi suasana kemerdekaan. Merdeka untuk bertanya. Merdeka untuk menjawab pertanyaan. Merdeka untuk menyanggah jawaban. Merdeka untuk mengasah keterampilan berpikir. Kunci sukses terjadinya kemerdekaan di kelas terletak pada sosok guru yang open-minded dan punya keterampilan bertanya efektif.

Wahai guru yang budiman, jangan berikan semua pertanyaan yang jawabannya hanya ada di kunci jawaban saja. Hal itu tidak melatih keterampilan berpikir murid. Memang pertanyaan akan terjawab, tetapi murid tetap akan mandul cara berpikirnya. Mencari suatu jawaban dari hasil berpikir berbeda sekali kualitasnya dibandingkan dari hasil menemukan di kunci jawaban.

Yang paling naas, guru memberikan pertanyaan berjenis pilihan ganda, semua murid bisa jawab semua pertanyaan. Lantas kita simpulkan, prestasi belajar murid itu bagus. Tak tahunya, dia dapat bocoran dari teman sebangku. Alamak, apa kata dunia. Pesannya, jangan ketagihan memberi soal pilihan ganda. Sekali-kali, coba beri murid tantangan berupa proyek kerja, menulis esai, menulis makalah, atau tugas apa pun yang menguji keterampilan berpikir murid.

Tak ada guru yang pandai dengan sendirinya. Hal ini pun berlaku bagi guru yang ingin mengembangkan seni bertanya efektif di kelas. Mereka perlu ilmu tentang seni bertanya efektif.

Mau tahu ilmunya? Coba cermati beberapa anjuran terkait prinsip bertanya efektif di kelas dari Thomas R. McDaniel (2000) berikut:

1. Merencanakan pertanyaan. Sebagian besar guru faktanya baru merencanakan pertanyaan yang akan diajukan kepada murid beberapa saat sebelum bertanya. Alangkah baiknya semua pertanyaan yang akan diajukan kepada murid sudah termaktub di rencana pelaksanaan pembelajaran (lesson plan).

2. Menggunakan beragam level jenis pertanyaan sehingga mampu memfasilitasi kemampuan berpikir tingkat tinggi murid. Hal ini sangat penting dilakukan untuk membantu murid melatih kemampuan berpikirnya. Upayakan semua pertanyaan mengikuti kaidah mudah-sukar dan sederhana-rumit. Pertanyaan mudah bertujuan untuk memotivasi & meyakinkan murid bahwa pada prinsipnya mereka dapat menjawab setiap pertanyaan guru. Pertanyaan sulit sendiri bertujuan untuk merangsang murid melatih kemampuan berpikir tingkat tingginya.

3. Menyediakan waktu jeda kepada murid untuk menjawab pertanyaan.  Teknik ini dapat mendorong kemampuan berpikir tingkat tinggi murid di kelas. Ketika suasana di kelas hening tanda tak ada murid yang menjawab pertanyaan, berhitunglah dalam hati sampai hitungan 5.

Trik ini perlu dilakukan untuk memberi kesempatan murid berpikir tentang jawaban mereka. Setelah itu, Anda persilahkan siapa di antara murid yang secara sukarela mau menjawab pertanyaan Anda. Lemparkan pertanyaan kepada seluruh murid, beri jeda waktu, dan tentukan salah satu murid secara acak untuk menjawab pertanyaan Anda, itu prinsip utamanya.

4. Menahan diri untuk tidak segera memberikan opini terhadap jawaban murid pada jenis pertanyaan yang menuntut kemampuan berpikir tingkat tinggi. Hindari kebiasaan untuk segera menanggapi jawaban murid. Berikan kesempatan kepada murid untuk saling mendengarkan jawaban di antara mereka. Karena itulah, mereka jadi saling belajar untuk melatih keterampilan berpikir.

5. Jangan bermain aman. Maksudnya, jangan berikan pertanyaan yang kita sendiri sebagai guru sudah tahu jawabannya. Berikanlah pertanyaan kepada murid yang kita sendiri juga sebagai guru belum tahu jawaban pastinya, karena itulah kita juga sebagai guru sedang belajar melatih keterampilan berpikir.

6. Mendengarkan secara seksama setiap jawaban murid. Praktik ini sangat penting, khususnya ketika guru menyampaikan pertanyaan terbuka (Jawabannya tidak sekadar benar atau salah. Misal, Mengapa Indonesia sering dilanda bencana? Mengapa Indonesia bisa dijajah Belanda sampai 350 tahun, dan pertanyaan sejenis lainnya), pertanyaan kreatif, dan atau pertanyaan evaluatif. Keterampilan ini harus terus dikembangkan agar guru dapat ‘menangkap’ gagasan cemerlang dari setiap jawaban murid.

7. Memberikan penguatan positif atas jawaban murid. Jawaban singkat dari murid untuk jenis pertanyaan mengulang informasi (level pengetahuan pada Taksonomi Bloom – level berpikir paling rendah) harus segera dikonfirmasi, berupa pujian jika berhasil dijawab murid, atau koreksi jika jawaban murid kurang tepat. Sedangkan untuk merespon jawaban murid atas jenis pertanyaan berpikir tingkat tinggi, maka lakukan trik bertanya efektif no. 6 di atas.

8. Menggunakan teknik bervariasi untuk meminta murid menjawab pertanyaan. Jika guru tetap ingin membuat murid merasa dilibatkan dalam menjawab pertanyaan, maka guru dapat mencoba menyebut salah satu nama murid secara acak, atau mengambil kartu yang sudah berisi nama-nama murid secara acak, atau bahkan melemparkan bola kepada murid yang hendak disuruh menjawab pertanyaan. Ingat, semua prosedur itu harus disepakati dulu bersama murid.

9. Mengajarkan murid bagaimana cara menjawab pertanyaan. Cara ini mudah sekali dilakukan. Ketika ada salah satu murid akan menjawab pertanyaan, maka guru dapat meminta semua murid untuk ikut menyimak jawaban dari murid tersebut, “Anak-anak, mari kita simak bagaimana cara si A menjawab pertanyaan tadi!”.

10. Mengajarkan murid bagaimana cara membuat pertanyaan. Ibarat pepatah, guru kencing berdiri murid kencing berlari. Kuasai keterampilan bertanya efektif, praktikan kehebatan Anda di kelas, kemudian refleksikan pengalaman Anda menguasai keterampilan bertanya efektif kepada murid, itulah cara terbaik mengajarkan murid bagaimana menguasai keterampilan bertanya efektif. Republika.co.id

Selamat mencoba.

Keajaiban Mendongeng Bagi Perkembangan Anak




Sobat Praktis,Tahukah Kamu

Mendongeng adalah pekerjaan yang kecil yang mendatangkan hasil yang sangat besar. Apa hasilnya? Anak adalah karunia terbesar dan terindah yang dititipkan Tuhan kepada kita. Setiap orang tua menginginkan anak super, anak jenius anak yang kreatif. Ingatlah bahwa anak jenius tidak dilahirkan. Mereka dibina! Pendidikan dimulai dari pangkuan Ibu, dan setiap kata yang diucapkan di telinga anak, akan membangun karakter mereka.

Lima belas menit waktu yang anda sediakan untuk mendongeng akan membuka waduk besar berisi energi dan gagasan kreatif, yang terkunci di dalam diri anak. Mendongeng seperti membuat api dalam diri anak. Percikan api kecil itu merupakan percikan pi seorang jenius. Dia akan bersinar di dunia yang berisi kemungkinan-kemungkinan yang dahsyat.

 Sayang sekali saat ini banyak sekali orang tua yang kehabisan waktu, segala macam target pekerjaan, sehingga tidak bisa meluangkan waktu untuk mendongeng bagi putra-putrinya.

Saya merasa nelangsa ketika melihat kondisi yang berubah, dari masa kanak-kanak saya dahulu ke masa sekarang. Zaman saya kecil saya seringkali di bacakan dongeng oleh Ibu, sebelum kami tidur.

Tiga puluh tujuh tahun umur saya kini dan kini saya masih mengingat dengan jelas cerita-cerita yang didongengkan Ibu kepada kami, sebagai pengantar tidur. Saya sangat bersyukur, bisa mendapatkan saat-saat bahagia seperti itu. Saya merasakan manfaat besar dongeng Ibu terhadap pertumbuhan kepribadian kami.

Tetapi anak-anak saat ini, termasuk anak saya tentunya, pengantar tidur mereka, tidak lagi, dongeng dari Ibu, tetapi televisi. Kita ketahui bahwa pada jam 20.00 WIB - 22.00 WIB, acara yang disajikan televisi tidak lagi sesuai dengan dikonsumsi untuk anak-anak. Bahkan terkadang untuk memberikan komentar tentang suatu tayangan televisi pun kita seringkali lupa, kendali di sudut atas bagian kiri tertulis “BO” atau Butuh Bimbingan Orang Tua.

Mendongeng merupakan batu loncatan penting dalam membentuk seorang anak super. Mendongeng memicu kekuatan berfikir yang super, yang melepaskan per-per imajinasi seorang jenius. Menurut ahli psikogi anak, pertumbuhan mental seorang anak berjalan sangat cepat, terutama sampai anak berusia enam tahun.

Sebelum pendidikan si anak dikemas ke dalam bentuk formal orang tua, atau kakek, nenek biasanya menjadi guru si anak. Mendongeng memiliki elemen penting dan vital bagi kuncup-kuncup pikiran anak. Sampai anak berusia ebam tahun, pola otak secara alami menyebabkan anak memiliki rasa ingin tahu untuk menjelajahi semua hal yang ada di sekitarnya. Rasa ingin tahu yang seakan tak terpuaskan. Anak-anak juga suka bermain dengan berbagai hal. Dia akan memasukkan kakinya yang kecil ke sepatu anda yang besar. Semua itu merupakan bagian dari “temuan besar”. Ini adalah usia ketika seorang anak menjadi penjelajah, orang yang tersesat, pencari jejak, pelancong, petualang dan pengelana. Semua sifat itu menyatu dalam dirinya.

Karena itu mendongeng merupakan sebuah keharusan dalam pembentukan seorang jenius. Kekuatan mendongeng tidak boleh diremehkan. Sebuah cerita memiliki kekuatan yang tidak dapat dilihat, tapi benar-benar nyata, yang membantu anak membuka dunia yang penuh semangat, keriangan dan kegembiraan.
Manfaat yang mendongeng bagi anak

1.      Merangsang kekuatan berfikir anak

Semua cerita memiliki alur yang baik, sebuah cerita dongeng akan membawa pesan moral, berisi tentang harapan, cinta dan cita-cita, tanpa menggurui. Sebuah cerita harus bisa merangsang rasa ingin tahu anak, apa yang terjadi kemudian? Ke mana dia pergi? Apa yang dilakukannya? Anak akan terbawa dengan kegairahan cerita. Anak anda akan tumbuh dan berkembang bersama dongeng yang didengarnya. Dongeng merangsang dan menggugah kekuatan berfikirnya.

2.      Membangkitkan imajinasi anak

Kata-kata kuat yang penuh makna dan kaya arti akan memicu berkembangnya imajinasi anak. Dalam mata pikirannya anak akan melihat dengan jelas suasana yang hidup dan sibuk di sebuah perkemahan, suara lecutan cambuk sapi dan geritan roda kereta. Melalui ini kreativitas anak akan terbangun oleh berbagai kemungkinan visual. Di dalam pikiran si anak akan berkembang imajinasi yang kuat untuk menjelajah dunia tokoh yang diceritakan.

3.      Mengasah kepekaan anak terhadap bunyi-bunyian

Saat mendongeng, bakat akrobatik suara sangat berguna! Bagaimana menirukan suara orang tua yang lemah dan gemetar, auman seekor singa, suara monyet yang gugup dan melengking. Kita berusaha menghidupkan kata-kata yang dipilih si pengarang dan sangat cermat. Kata-kata bisa jadi sangat mengagumkan jika diucapkan dengan intonasi dan ekspresi yang berbeda. Hal ini akan mengasah pendengaran anak terhadap nuansa bunyi-bunyian.

4.      Memupuk pengertian terhadap orang lain

Kita tentunya ingin anak memiliki banyak pengetahuan yang berguna agar bisa memahami orang lain. Itulah manfaat mendongeng. Tokoh-tokoh di dalam buku cerita akan terasa hidup. Anak akan bisa membedakan tokoh yang satu yang satu dan yang lainnya. Setiap tokoh akan menjadi temannya.

Dengan memahami tokoh, anak akan memahami dirinya. Ini merupakan tahap dari proses pertumbuhan proses pertumbuhan. Apabila pikirannya yang mampu membeda-bedakan, anak akan menerima kenyataan, bahwa monyet yang nakal berbeda dengan singa yang garang. Bahasa bunga merpati yang cinta damai, sangat berbeda dengan burung nasar pemakan bangkai. Ini akan menjadi pelajaran yang sangat berharga. Saat si anak tumbuh besar, dia akan belajar menghormati perbedaan.

5.      Memupuk rasa cinta pada daerah

Menceritakan cerita rakyat berarti menambah harta karun pengetahuan sang anak. Selain itu cerita rakyat umumnya sederhana dan sarat dengan kualitas puitis. Cerita rakyat biasanya menggambarkan kehidupan orang atau kelompok masyarakat yang hidupnya dekat dengan alam cerita, secara tidak langsung ada menyamai tumbuhnya rasa cinta pada daerah.

6.      Inspirasi dari orang-orang terkenal

Setiap orang tua tentunya ingin anaknya menjadi pintar dalam segala hal. memahami semua subjek dengan sangat baik. Cara terbaik untuk menarik minatnya adalah dengan menceritakan tentang orang-orang ternama, yang berperan dalam kehidupan kita. Orang tua bisa menceritakan tentang orang-orang terkenal di bidang Sejarah Ilmu Pengetahuan, matematika, musik bahkan para pembuat jalan kereta api dan lain-lain.

Kehidupan orang-orang besar bisa menjadi ilham yang luar biasa buat seorang anak. Dengan menceritakan kepada anak tentang kehidupan orang ternama, anda akan memperkenalkan anak kepada dunia para genius. Ini adalah awal yang sangat baik sebuah titik landas yang hebat bagi si genius untuk pengepakan sayapnya di dalam atmosper yang sudah dimurnikan.

Dengan cara ini, orang tua memberi nilai tambah kepada anak mengarahkannya secara benar : mengisi tubuhnya dengan keinginan yang menggebu-gebu, dan motivasi yang memberikan daya dorong tambahan bagi kejeniusannya.

Jadi mengapa anda masih belum punya waktu untuk membacakan cerita untuk anak? Dengan mendongeng orang tua akan membuka waduk besar berisi energi dan gagasan kreatif yang terkunci di dalam diri anak. Nah mulailah hari ini untuk menyemai bibit-bibit jenius di dalam diri anak anda!
Selamat mencoba.red

Budaya Menulis Membantu Kegiatan Belajar-Mengajar



Praktisi komunikasi, Aat Surya Syafaat, mengatakan budaya menulis dan membaca membantu kegiatan belajar-mengajar, khususnya pada lembaga pendidikan dan masyarakat secara umum.

"Untuk menjadi pandai, kita tidak lepas dari kegiatan menulis dan membaca, meskipun banyak metode lain yang dapat digunakan agar seseorang menjadi pandai dan cerdas," katanya dalam orasi ilmiah yang disampaikan saat wisuda Universitas Mathla'ul Anwar Banten, Sabtu (25/2).

Wartawan senior Kantor Berita Antara itu juga menyatakan budaya menulis membantu memperlancar hubungan dan interaksi sosial antar individu, kelompok masyarakat, bahkan antar bangsa, serta memperlancar hubungan kerjasama dalam menyelesaikan berbagai permasalahan, termasuk persoalan sengketa antar bangsa.

"Melalui tulisan, kita bisa memberikan sumbangan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, budaya dan lainnya, demi meningkatkan kesejahteraan rakyat. Saat ini, tulisan tetap menjadi media komunikasi yang diandalkan," kata Aat.

Bung Hatta, kata dia, menulis buku berjudul "Mendayung Antara Dua Karang" ketika ditahan penjajah Balanda di penjara Boven Digul. Dan karyanya itu menjadi "basic" politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif.

Demikian juga Bung Karno, kata dia, menulis buku berjudul "Di Bawah Bendera Revolusi" ketika ditahan di penjara Sukamiskin, Bandung. Tulisannya itu menginspirasi generasi muda dengan nilai-nilai perjuangan.

"Kedua buku yang ditulis para pendiri bangsa itu, saya kemukakan untuk memotivasi semua pihak, bahwa menulis merupakan aktualisasi diri yang membawa idealisme untuk masa depan bangsa yang lebih baik," kata Mantan Kepala Biro Antara New York, Amerika Serikat itu.

Menurut dia, tidak ada istilah terlambat dalam menulis. Andrea Hirata, penulis buku "Laskar Pelangi" yang menjadi "best seller', baru memulai menulis pada usia 40 tahun.

Aat juga mengatakan, bagi civitas akademika, banyaknya tulisan yang dimuat pada jurnal-jurnal ilmiah merupakan salah satu indikator perguruan tinggi itu memiliki kualitas yang membanggakan. Bahkan berkelas dunia kalau tulisan dosen dan mahasiswanya banyak ditemui di jurnal-jurnal internasional. Sumber : REPUBLIKA

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Web Hosting Bluehost